Mengenal Patua, Bahasa di Macao yang Langka

Mengenal Patua, Bahasa di Macao yang Langka Mengenal Patua, Bahasa di Macao yang Langka
Dipublikasikan pada 2020-12-03 09:06:48

Bahasa di Macao menjadi kekayaan budaya yang menarik bagi wisatawan. Salah satunya buktinya ialah keberadaan bahasa Patua. Ini adalah ragam bahasa di Macao yang sudah langka sehingga menarik untuk dipahami.

Bahasa di Macao sebenarnya cukup beragam. Secara resmi, bahasa yang diakui oleh Pemerintah Macao ialah bahasa Cina dan Portugis. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal lain. 

Bahasa di Macao cukup banyak. Sehari-hari, warga Macao biasa berbicara menggunakan bahasa Kanton. Selain itu, tidak sedikit yang memakai dialek Hakka. 

Lalu, karena menjadi destinasi wisata internasional, tidak sedikit warganya yang mampu berbahasa Inggris dengan baik. Selain itu, masih ada pula yang bisa bertutur bahasa Portugis dengan baik.

Meski begitu, dari semua bahasa di Macao, Patua patut menjadi perhatian tersendiri. Bahasa ini langka dan mewakili sejarah panjang Macao.

Apa Sebenarnya Bahasa Patua yang Hanya Ada di Macao Ini?

Bahasa menunjukkan jati diri bangsa. Bahasa di Macao juga memperlihatkan hal serupa. Salah satunya bahasa Patua. 

Secara garis besar, bahasa Patua merupakan gabungan beberapa bahasa di Macao. Bahasa ini merupakan hasil perpaduan dari bahasa Portugis dengan bahasa Kanton dan Melayu.

Hal ini tidak lepas dari fakta sejarah bahwa Macao pernah menjadi pusat maritim dunia. Ratusan tahun lalu, perdagangan rempah dari Timur ke Barat berawal dari sini.

Fakta tersebut menjadikan Macao berkembang dari desa nelayan menjadi kota perdagangan besar. Akibatnya banyak pedagang - terutama dari Portugal -  yang berdagang di sana.

Latar belakang itu menghadirkan bahasa Patua. Sebuah penuturan unik yang menggabungkan berbagai bahasa berbeda. Bahkan, jejak bahasa di Macao yang spesial ini malah bisa dilacak dari Malaka. Diyakini Patua berawal dari sana sebelum berkembang pesat di Macao.

Siapa Pemakai Bahasa Patua?

Posisi sebagai pusat perdagangan dunia menjadikan Macao sebagai pusat akulturasi budaya. Di sana budaya Barat dan Timur melebur dengan indah.

Salah satu bentuk akulturasi ialah pernikahan antara warga Portugis dan warga Cina. Mereka melahirkan anak-anak yang bisa disebut sebagai warga asli Macao. Publik biasa menyebutnya sebagai indigenous macanese. 

Mereka akhirnya mengembangkan budaya sendiri, mulai dari makanan, tradisi, hingga bahasa. Mereka pula pemakai bahasa Patua di Macao. Sehari-hari, indigenous macanese bertutur kata dengan bahasa yang dinilai sebagai salah satu creole language terunik tersebut.

Kondisi Bahasa Patua di Macao

Akan tetapi, seiring waktu, perkembangan bahasa Patua di Macao terbilang tragis. Penuturnya terus berkurang dari waktu ke waktu. Akibatnya, bahasa Patua menjadi bahasa di Macao yang nyaris punah.

Berdasarkan penelitian UNESCO pada tahun 2000, jumlah penutur bahasa Patua di dunia hanya tinggal 50 orang. Tidak heran, pada tahun 2009, UNESCO menetapkan status critically endangered untuk bahasa di Macao tersebut.

Penurunan pemakaian bahasa Patua tidak lepas dari perkembangan komunitas asal Portugal di sana. Hal itu menjadikan bahasa Portugis sebagai bahasa utama. Sekolah-sekolah pun melarang pemakaian bahasa Patua. 

“Waktu masih sekolah, mereka tidak suka saya memakai bahasa Patua karena dianggap bukan bahasa Portugis yang tepat,” kata salah seorang penutur bahasa Patua, Sonia Palmer, di South China Morning Post.

Bersamaan dengan itu, citra bahasa Patua pun kurang mendukung perkembangan. Bahasa ini dipersepsikan hanya dipakai oleh orang dari kalangan bawah dan kurang berpendidikan. Hal tersebut semakin menekan pemakaian bahasa Patua di Macao.

Tidak mengherankan, bahasa Patua kian terkikis. Orang yang memahaminya pun kebanyakan hanya kaum lanjut usia. Jumlahnya kian berkurang. Hal ini membuat Patua menjadi salah satu bahasa di Macao yang berada dalam bahaya ambang kepunahan.

Upaya Pelestarian Bahasa di Macao

Fakta mengenaskan terkait bahasa Patua membuat banyak warga Macao tergerak. Mereka tidak rela salah satu bagian dari keunikan budayanya tersebut punah. Maka dari itu, berbagai upaya penyelamatan dilakukan.

Salah satu warga Macao bernama Elisabela Larrea membuat blog berbahasa Inggris dan Cina untuk mengenalkan bahasa Patua. Ia mendorong para pembaca di situsnya untuk mau belajar.

Alasan Larrea cukup kuat. Bahasa Patua sejatinya adalah bahasa asli Macao. Dengan demikian, jangan sampai punah.

“Ibu saya pernah berkata, ‘Orang tua dulu menyerah terhadap bahasa yang seharusnya bukan bahasa kita. Sekarang kita harus merebut kembali hal yang seharusnya merepresentasikan budaya kita, semangat kita. Patua adalah bahasa kita. Ini milik kita,’” kata Larrea di Guardian

Tekad serupa dimiliki oleh sejumlah warga Macao lain. Mereka pun berupaya melestarikan bahasa Patua agar tidak punah. Salah satunya ialah mereka yang tergabung dalam komunitas Macanese Association. 

Secara rutin, mereka menggelar berbagai pertunjukan seni berbahasa Patua. Tujuannya agar semakin banyak yang mengenal dan memakainya kembali.

Buah dari upaya tersebut belum diketahui pasti. Namun yang jelas bahasa Patua ingin dilestarikan. Warga Macao tidak rela kehilangan bahasa yang menjadi identitasnya tersebut.

Bahasa Patua akhirnya tidak bisa dinilai sekadar salah salah satu bahasa di Macao. Ini adalah bahasa yang menjadi identitas Macao yang sesungguhnya. Macao adalah wadah perpaduan beragam budaya. Bahasa Patua yang berkembang di sana merupakan perwujudan nyatanya.

 

Kembali