20th macao logo circle

Berpetualang menjelajah Macao dan nikmati arsitektur, seni, tradisi, makanan dan komunitas di Macao yang mencerminkan integrasi budaya Cina, Barat dan Portugis.

East meets West!

Merasakan Jiwa Bahari Macao

20 Aug, 2019
Merasakan Jiwa Bahari Macao

Masa depan tidak ada yang tahu. Macao yang sebelumnya menjadi pusat kegiatan bahari di kawasan Asia Timur kini telah berubah. Mereka tidak lagi menjadi pusat maritim. Namun, sisa-sisa kejayaannya masih ada dan layak untuk ditelisik lebih lanjut.

Macao saat ini lebih dikenal sebagai pusat hiburan dengan bangunan-bangunan bersejarah. Perpaduan budaya Barat dan Timur yang unik menjadikannya daerah yang diminati wisatawan.

Namun, sejatinya akar Macao ada di dunia maritim. Letaknya yang strategis membuatnya menjadi sentral perdagangan. Kegiatan bahari pun mulai tumbuh di sana sejak abad ke-16. Mulai saat itu berbagai pihak di dunia menjadikan Macao sebagai pelabuhan untuk berbagai kegiatan dagang.

Kegiatan bahari akhirnya di Macao akhirnya semakin besar. Dulu di sana hanya ada nelayan kecil yang menggantungkan hidup dengan hasil laut. Namun, seiring dengan kemajuan Macao, jenis penghidupan mereka mulai bertambah.

Berkat kemampuan apik membangun kapal tradisional, industri pembuatan kapal berkembang pesat.

Jadilah Macao semakin lengkap sebagai sentra kegiatan bahari. Namun, kondisi lambat laun mulai berubah. Perkembangan zaman tidak lagi menjadikan Macao sebagai sentral perdagangan. Pelabuhan pun mulai sepi.

Industri galangan kapal juga mulai merasakan akibatnya. Terlebih pembuatan kapal modern juga semakin tumbuh. Akibatnya, pembuatan kapal tradisional yang disebut jung tersebut mulai kolaps. Padahal, sekitar era 1950-an, industri kapal jung di Macao masih berkibar. Saat itu setidaknya ada 30 galangan kapal yang beroperasi.

Para nelayan pun memiliki nasib mengenaskan. Kondisi perairan Macao yang semakin buruk membuat hasil tangkapan kian sedikit. Ini membuat jumlah nelayan semakin berkurang. Kini hanya segelintir orang Macao yang berprofesi sebagai nelayan. Padahal, pada era 1950-an setidaknya ada 10 ribuan nelayan di sana. Saat itu, semua anak bermimpi menjadi pelaut seperti ayahnya masing-masing.

Meski begitu, sisa-sisa kejayaan maritim Macao masih bisa didapati Coloane Village. Di sana masih terdapat sejumlah dermaga tua yang pernah dipakai zaman dulu. Lalu, ada pula beberapa bangunan terbengkalai yang mulanya adalah pusat produksi kapal jung.

HENDAK DILESTARIKAN

Otoritas Macao melihat jiwa bahari masyarakatnya wajib dipertahankan. Mereka berniat merestorasi kampung-kampung nelayan di Coloane sebagai daya tarik wisata. Hal ini pun mulai disambut warga dengan baik. Sejumlah faktor pendukung pariwisata mulai hadir.

Sekarang di sana tersedia sejumlah restoran maupun cafe untuk bersantai. Salah satunya ada yang berlokasi di bekas galangan kapal. Bukan hanya itu, sejumlah mantan pembuat kapal jung akhirnya banting setir memproduksi replika kapal jung. Kapal dibuat dengan ukuran yang kecil namun dengan skala dan cara pengerjaan yang sama persis dengan aslinya. Keberadaannya menjadi daya tarik tersendiri di Coloane.

Selain itu, terdapat pula beberapa tur privat yang dapat diikuti. Warga lokal akan siap mengantar wisatawan untuk berkeliling sembari menjelaskan sejarah panjang kemaritiman di sana.

Jika tertarik dengan sejarah bahari Macao, Anda pantang melewatkannya. Susurilah sejumlah area yang sarat dengan nuansa bahari di sana. Untuk melengkapi semuanya, Anda dapat mengunjungi Museum Maritim Macao yang ada di Sao Laurenco guna memperoleh pemahaman lebih mendalam.