Sejarah

Sejarah Sejarah

Ilustasi suasana A-ma temple pada 1835 oleh Auguste Borget & B. Bradshaw.

Para nelayan dari Fujian dan para petani dari Guangdong adalah orang-orang pertama yang menetap di Macao dulunya dikenal sebagai Ou Mun, atau "gerbang perdagangan", karena lokasinya yang terletak di mulut Sungai Mutiara (Pearl River Delta) — sungai yang mengalir dari Guangzhou. Wilayah ini merupakan kota pelabuhan yang menjadi bagian dari jalan sutra dimana kapal-kapal dagang membawa muatan sutra dari sini menuju Roma.

Penha Hills

Ilustrasi Penha Hill pada 1835 oleh beberapa orang.

Bahkan setelah Tiongkok tidak lagi menjadi pusat perdagangan dunia, Guangzhou tetap makmur dari usaha maritim dengan negara-negara di Asia Tenggara, sehingga pengusaha lokal menyambut baik ketika para pelaut - pedagang Portugis datang. Para pedagang Portugis mulai berdatangan setelah Jorge Alvares datang di selatan Tiongkok pada tahun 1513 dan bertujuan mencari pos perdagangan yang sesuai untuk mereka.

Di awal tahun 1550-an para pedagang Portugis tiba di Macao tidak jauh dari A-Ma Temple, kuil yang oleh penduduk setempat sebagai untuk menghormati “A Ma Gao” Dewi Laut, dimana kuilnya berada tepat di pintu masuk pelabuhan yang terlindungi. Sebutan kata A Ma Gao dilafalkan bangsa Portugis yang perlahan-lahan berubah menjadi "Macao" dan atas izin penduduk Guangdong, bangsa Portugis membangun kota Macao yang menjadi pintu masuk perdagangan besar antara Tiongkok, Jepang, India dan Eropa.

Benteng Heang-san

Ilustrasi Benteng Heang-san di Macao pada 1835 dibuat oleh august Borget.

Macao juga menjadi persimpangan yang sempurna sebagai tempat pertemuan antara budaya Timur dan Barat. Gereja Katolik Roma mengirimkan beberapa misionaris terbaiknya untuk melanjutkan tugas St. Francis Xavier (yang meninggal tak lama setelah melakukan banyak perubahan di Jepang). Sebuah universitas Kristen didirikan, tepat di sebelah apa yang pada masa kini disebut sebagai Ruins of St. Paul's, dimana siswa-siswa seperti Matteo Ricci mempersiapkan diri untuk tugas mereka sebagai cendekiawan Kristen pada Imperial Court di Beijing. Gereja-gereja lain didirikan, begitu juga dengan benteng-benteng, sehingga Macao mempunyai penampilan bersejarah gaya Eropa yang berbeda dengan kota lainnya hingga saat ini.

Ilustrasi Guia Hills

Ilustrasi Gua Hills sekitar 1835 oleh Capt. R. Elliot.

Masa keemasan Portugis di Asia memudar saat pesaing mereka seperti Belanda dan Inggris mengambil alih perdagangan mereka. Tetapi penduduk Tiongkok memilih untuk melanjutkan bisnis dengan Portugis di Macao, sehingga lebih dari seabad British East India Company dan perusahaan lainnya membuka toko dengan menyewa rumahrumah yang elegan seperti Casa Garden. Bersamaan dengan berkembangnya perdagangan antara Tiongkok dengan Eropa, pedagang-pedagang Eropa menghabiskan sebagian waktunya dalam setahun untuk pergi ke Guangzhou, membeli teh dan barang-barang mewah pada perayaan yang diadakan setahun dua kali, dan menjadikan Macao sebagai tempat rekreasi. Setelah Perang Candu Pertama berakhir pada tahun 1841, Hong Kong berada di bawah kekuasaan Inggris dan sebagian besar pedagang asing meninggalkan Macao, tempat ini pun menjadi sepi. Meskipun demikian, Macao tetap menjadi tempat untuk menikmati keanekaragaman multikultural, dengan nuansa bangunan bersejarahnya, dan kemudian menjadi tempat perhentian favorit bagi wisatawan mancanegara, penulis dan seniman.

Di era modern, Macao telah mengembangkan berbagai industri seperti tekstil, elektronik dan mainan, serta menciptakan industri pariwisata kelas dunia dengan banyak pilihan hotel, resor, fasilitas olahraga, restoran dan kasino. Sebagaimana di masa lalu, ekonomi Macao berkaitan erat dengan Hong Kong dan Provinsi Guangdong, khususnya dengan daerah Pearl River Delta, yang disebut sebagai salah satu dari "macan kecil" Asia. Macao menyediakan pelayanan keuangan dan perbankan, pelatihan staf, dukungan transportasi dan komunikasi.

Macao merupakan Daerah Administratif Khusus (SAR) dari Republik Rakyat Tiongkok sejak 20 Desember 1999, dan seperti halnya Hong Kong, Macao juga menerapkan prinsip "satu negara, dua sistem". Macao dengan wilayahnya yang kecil berkembang pesat dengan bertambahnya gedung dan perluasan tanah serta dalam hal jumlah dan keragaman atraksinya. Semua ini menjadi keunikan tersendiri untuk Macao, dengan perpaduan dari timur dan barat yang saling melengkapi, sehingga membuat banyak orang yang ingin datang berkunjung.

Kembali